Loading...
Anda di sini:  Laman Utama  >  Ilmu Islam  >  Akhlak  >  Current Article

Amanah Terbesar

By   /   July 30, 2012  /   No Comments

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, dan semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khuatir akan mengkhianatinya, dan manusia pun memikul amanah itu. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (72) sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (73) (Al-Ahzab / 33 : 72-73)

Sesungguhnya langit, bumi, dan gunung; yang dipilih al-Qur’an sebagai subjek perbicaraan, adalah makhluk yang sangat besar, manusia yang hidup di dalamnya atau di bawahnya kelihatan kecil dan lemah. Makhluk-makhluk tersebut mengenal Penciptanya sejak dari awal, dan serta merta memperoleh petunjuk tentang undang-undang yang mengaturnya penciptaan, pembentukan, dan sistemnya. Mereka mentaati undang-undang Pencipta mereka secara langsung, tanpa melalui rujukan dan perantara. Mereka bergerak seiring dengan undang-undang tersebut secara konsisten, tanpa melencong dan tanpa membangkang dalam menjalankan peranan yang telah ditentukan. Mereka menjalankan tugas mengikut hukum penciptaan dan karakter yang telah ditetapkan tanpa melibatkan emosi dan secara sukarela.

Matahari berputar pada paksinya dengan putaran yang sistematik, tanpa pernah melencong dari sistemnya. Ia memancarkan cahayanya, untuk menjalankan tugas yang telah dimandatkan Allah padanya. Ia menarik satelit-satelit disekelilingnya bukan didasari keinginan dalam dirinya, melainkan untuk menjalankan tugas kosmiknya secara sempurna.

Bumi ini berputar pada paksinya, mengeluarkan tanaman, menghasilkan makanan untuk para penghuninya, dan memancarkan mata air. Semua itu selaras dengan sunnatullah tanpa ada kehendak darinya.

Bulan, bintang, dan planet, angin dan awan, udara dan angin, gunung dan lembah, seluruhnya menjalankan peranannya dengan seizin Allah, mengenal Pencipta, dan tunduk kepada kehendakNya dengan sukarela. Tanpa dikerahkan tenaga, tanpa susah-payah, dan tanpa usaha. Mereka takut menerima amanah tugas, amanah kehendak, amanah pengetahuan peribadi, amanah untuk kerja yang lebih khusus.

“Dan dipikullah amanat itu oleh manusia..”

Manusia mengenal Allah dengan hati dan perasaannya, menemukan petunjuk kepada undang-undang Allah melalui pemerhatian dan pengamatan, melaksanakan undang-undang ALLAH dengan usaha dan susah-payah, mentaati Allah dengan penuh kesedaran dan tanggungjawab, menahan kehendak dari penyimpangan, melawan egonya dan syahwatnya dengan segala upaya. Di setiap tindakan ini, manusia didasari keinginan, sedar, dan memilih jalan dalam keadaan mereka tahu pengakhiran jalan ini.

Itulah amanah terbesar yang dipikul makhluk yang kecil ukurannya, kurang tenaganya, lemah usahanya, terbatas usianya, dan juga dipenuhi nafsu, keinginan, dan cita-cita.

Sememangnya ini ialah tindakan “adventure” jika ia memikul tugas yang berat ini di bahunya. Dari sini, “manusia itu amat zalim” terhadap dirinya, “dan amat bodoh” terhadap kekuatannya. Kezaliman ini terkait dengan besarnya beban yang perlu dipikul. Tetapi, ketika ia bangkit memikul tugas tersebut, ketika ia sampai kepada ma’rifat yang menghantarkan kepada Penciptanya, menemukan petunjuk terus kepada undang-undangnya dan ketaatan yang sempurna terhadap kehendak Rabb-nya, sebuah ma’rifat, petunjuk, dan ketaatan yang mengantarnya kepada tingkatan yang telah dicapai langit, bumi, dan gunung dengan mudah, padahal langit, bumi, dan gunung-gunung itu adalah makhluk yang mengenal Allah secara fitrah, menemukan petunjuk secara fitrah, taat secara fitrah, tidak ada faktor yang menghalangnya dari patuh kepada Pencipta, undang-undang, dan kehendak-Nya. Serta tidak ada faktor yang menahannya melaksanakan perintah-Nya. Ketika manusia sampai kepada tingkatan ini dalam keadaan sedar, penuh kefahamam, dan tanpa paksaan, maka ia benar-benar telah mencapai maqam yang mulia dan tempat yang unik di antara ciptaan Allah.

Itulah keutamaan kehendak, hati, usaha, dan menanggung beban. Itulah keistimewaan manusia dibandingkan banyak makhluk Allah yang lain. Itulah kayu ukur penghormatan yang diiktiraf Allah di al-Mala’ul-A’la, saat Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam. Allah mengiktirafnya di dalam al-Qur’an yang firmanNya: “Sungguh telah Kami muliakan bani Adam…” (al-Isra’ [17]: 70)

Maka, hendaknya manusia tahu kedudukan mulianya di sisi Allah, dan hendaknya ia memikul amanah yang dipilihnya. Amanat yang pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, namun mereka menolak untuk memikulnya dan khuatir tidak mampu menjalankan amanat tersebut!

Tujuannya adalah:

“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (73)

Jadi, perbezaan manusia dari makhluk lain adalah dalam aspek memikul amanah, memikul tugas mengenal Rabbnya sendiri, menemukan hidayah, beramal, dan mencapai Rabbnya. Semua itu agar ia memikul akibat dari pilihannya sebelum itu, agar balasan untuknya bertepatan dengan amalnya, dan agar azab itu terus ditimpakan kepada orang-orang munafiq dan musyrik, samaada lelaki atau perempuan. Dan agar Allah menghulurkan pertolongan kepada orang-orang mukmin, samaada lelaki atau perempuan, dengan menerima taubat mereka atas kekurangan dan kelemahan akibat tekanan-tekanan dalaman, rintangan yang menghalang perjalanan, serta berbagai daya tarikan dan beban yang meletihkan mereka. Itulah kurnia dan pertolongan Allah. Dan Allah itu Maha Pengampun dan memberi rahmat bagi hamba-hamb-Nya:

“Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (73)

Dengan nada yang kuat dan mendalam inilah ditutup surah (Al-Ahzab) yang diawali dengan arahan kepada Rasulullah saw. iaitu arahan untuk taat kepada Allah, tidak mematuhi orang-orang kafir dan munafiq, mengikut wahyu Allah, dan tawakkal kepadaNya semata-mata, bukan kepada yang lain. Surah ini juga mengandungi berbagai arahan dan ketetapan syari’at yang menjadi asas kepada sistem masyarakat Islam, iaitu ikhlas untuk Allah, tujuannya hanya kepada Rabb, dan mentaati arahan-arahanNya.

Dengan nada yang menggambarkan kepentingan tugas dan besarnya amanah, mendefinisikan kepentingan dan besarnya amanah, dan yang membatasi seluruhnya dalam upaya manusia untuk mengenal Allah, menemukan petunjuk kepada undang-undangNya, dan tunduk kepada kehendaknya ini. Dengan nada inilah surah ini ditutup, bahagian awalnya dan bahagian akhirnya selari dengan tema dan arah tujunya, dalam sebuah harmoni yang penuh mukjizat, yang secara hakikatnya menunjukkan sumber Kitab ini.

Diterjemah Oleh: AnaQi Saleh
Sumber: http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-zhilal/amanah-terbesar.htm

    Print       Email
  • Published: 1848 days ago on July 30, 2012
  • By:
  • Last Modified: June 2, 2012 @ 1:14 pm
  • Filed Under: Akhlak
  • Tagged With:

About the author

anaqi

Editor

Leave a Reply

You might also like...

akhlak

Akhlak Dakwah dan Godaan Setan

Read More →