Loading...
Anda di sini:  Laman Utama  >  Ilmu Islam  >  Akidah  >  Current Article

Keinginan Nabi Musa a.s. untuk Melihat Tuhan (1)

By   /   June 18, 2012  /   No Comments

Selanjutnya, dibentangkan sebuah pemandangan unik yang dikhususkan Allah untuk Nabinya yang bernama Musa A.S. Pemandangan yang berupa perbicaraan langsung antara Allah Yang Maha Agung dengan salah seorang hamba-Nya.

Pemandangan tentang hubungan tanpa perantaraan antara sebutir debu yang terbatas dan fana, dengan Wujud yang azali dan abadi. Si manusia ini mampu menghadap Sang Maha Pencipta dan Maha Kekal, yang jauh dari atas bumi ini.

Kita tidak mengetahui dengan terperinci bagaimana hal itu terjadi. Kita tidak tahu bagaimana Allah berbicara dengan Musa. Kita juga tidak tahu dengan perasaan yang mana, anggota tubuh yang mana, dan dengan alat apa Musa menerima kalimat-kalimat Allah itu.

Maka, tidak mungkin kita dapat menggambarkan kejadian sebenarnya yang berlaku. Sebagai manusia yang kemampuan kita serba terbatas ini, kita memiliki jiwa halus dari ruh Allah di dalam diri kita, yang dengannya kita dapat pergi dan naik ke ufuk tinggi dan memancarkan cahaya itu.

Kemudian, kita berhenti di tempat terhormat ini dengan tidak mencuba merosakkannya dengan mempertanyakan apa dan bagaimananya. Kita ingin menggambarkannya sekadar menurut kemampuan kita yang terhad dan terbatas.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau…” (QS. Al-A’raf: 143)

Itu adalah peristiwa yang menakutkan dan membingungkan. Tetapi, Musa mampu menerima kalimat-kalimat Tuhannya, dan ruhnya melihat, mendekat, bergelora kepada apa yang dirindukannya.

Maka, Musa lupa siapa dirinya, dia lupa apa dirinya itu, dan ia meminta sesuatu yang tidak layak dilakukan manusia di muka bumi ini, dan meminta sesuatu yang tidak dapat dipenuhi manusia di dunia ini.

Ia meminta untuk melakukan penglihatan yang teragung, permintaan yang didorong oleh desakan rindunya, dorongan harapannya, gejolak cintanya, dan keinginannya untuk menyaksikan Tuhannya, sehingga ia diingatkan oleh kalimat yang pasti.

“Tuhan berfirman, ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku….”

Kemudian, Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia berbelas kasihan kepadanya, dan memberitahukan kepadanya mengapa dia tidak akan dapat melihat-Nya, iaitu kerana ia jelas tidak akan mampu melihat-Nya.

“Akan tetapi, lihatlah ke bukit itu. Maka, jika tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya kamu dapat melihat-Ku.”

Gunung itu begitu kukuh dan mantap. Walaupun gunung dengan kekukuhan dan kemantapannya, ia mempunyai keterpengaruhannya dan respon yang lebih kecil berbanding manusia. Akan tetapi, apakah gerangan yang terjadi?

“Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh…”

Bagaimana bentuk dan cara penyingkapan ‘penampakan diri’ Allah itu? Kita tidak dapat mengenalpasti dan menceritakan secara jelas. Kita tidak dapat mengetahuinya. Kita tidak dapat melihatnya kecuali dengan kehalusan yang menghubungkan kita dengan Allah, ketika ruh kita bersih dan jernih, dan menghadap secara total kepada sumbernya.

Ada pun kata-kata murni tidaklah dapat memindahkan sesuatu pun. Oleh kerana itu, kami tidak mencuba melukiskan tajalli ini dengan kata-kata. Kami cenderung membuang semua riwayat dalam menafsirkannya. Kerana tidak satu pun yang berasal dari Rasul saw. Alquranul Karim sendiri tidak mengatakan sesuatu pun.

“Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh…”

Seluruh puncaknya tenggelam hingga terlihat rata dengan tanah, hancur berantakan. Musa sangat ketakutan, dan berlakulah sesuatu pada keberadaan dirinya sebgai manusia yang lemah.

“Dan, Musa pun jatuh pengsan.”

Ia pengsan, tidak sedarkan diri.

“Maka setelah Musa sedar kembali….”

Kembali kepada dirinya, dan mengetahui ukuran kemampuannya, dan menyedari bahwa dia telah melakukan permintaan yang melebihi batas.

“Dia berkata, ‘Mahasuci Engkau….”

Mahasuci dan Mahatinggi Engkau, tak mungkin mata manusia dapat melihat dan memandang-Mu.
“Aku bertaubat kepada Engkau,” daripada melakukan permintaan yang melampaui batas.

Penterjemah: mhudzaifah
Sumber: http://www.eramuslim.com/syariah/tafsir-zhilal/kedekatan-hubungan-musa-a-s-dengan-tuhannya-dan-keinginannya-untuk-melihat-tuhan.htm

    Print       Email

Leave a Reply

You might also like...

tarbiyah

Dasar-dasar konsep Tarbiah dalam Al-Quran

Read More →