Loading...
Anda di sini:  Laman Utama  >  Baitul Muslim  >  Pendidikan Anak-Anak  >  Current Article

Sistem Pendidikan Anak dan Hubungan Anak dengan Ibubaba (2)

By   /   May 11, 2012  /   No Comments

Di bawah naungan gambaran yang lembut itu, al-Qur’an perintahkan untuk bersyukur kepada Allah sebagai pemberi nikmat yang pertama, dan kepada kedua ibu bapa sebagai pemberi nikmat yang yang kedua. Al-Qur’an menyusun kewajipan-kewajipan, dimana syukur kepada Allah disebut terlebih dahulu, lalu disusuli dengan syukur kepada kedua ibu bapa. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ke dua ibu bapamu..” Lalu al-Qur’an menghubungkan hakikat ini dengan hakikat akhirat: “Hanya kepada-Kulah kembalimu..” dimana bekal syukur yang disimpan itu bermanfaat.

Tetapi, hubungan kedua, ibu bapa dengan anak—sejauh mana emosi dan kemuliaannya dalam urutannya berada sesudah pertalian akidah. Ini disebabkan nasihat yang seterusnya bersangkutan dengan hubungan manusia dengan kedua ibu bapanya: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya..” Sampai di sini gugur kewajipan taat, dan pertalian akidah mengalahkan segala pertalian yang lain. Meskipun kedua ibu bapa mengerahkan tenaga, usaha keras, paksaan, dan simpati untuk memujuk anak supaya menyekutukan Allah dengan apa sahaja yang memang tidak memiliki uluhiyyah, maka ia diperintahkan oleh Allah untuk tidak taat, kerana Allah adalah pemegang hak pertama untuk ditaati.

Tetapi, perbezaan akidah dan perintah untuk tidak taat dalam masalah akidah itu tidak menggugurkan hak ibu bapa untuk memperoleh layanan yang baik: “Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik..” Jadi, itu adalah perjalanan singkat di bumi yang tidak mempengaruhi hakikat yang asal: “Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku..” yaitu orang-orang yang beriman. “Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu..” setelah perjalanan di bumi yang terbatas. “Maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (15) Masing-masing memperoleh balasan atas kufur atau syukur, serta syirik atau tauhid yang dikerjakannya.

Diriwayatkan bahawa ayat ini, juga sebuah ayat dalam surat al-’Ankabur dan al-Ahqaf, turun berkenaan dengan Sa’d bin Abu Waqqash dan ibunya (sebagaimana telah penulis jelaskan penafsirannya dalam surat al-’Ankabut). Dan riwayat lain mengatakan bahawa ia turun berkenaan dengan Sa’d bin Malik. Thabrani di dalam kitab Pergaulan meriwayatkan dengan sanadnya dari Daud bin Abu Hindun.

Sementara kisah tersebut terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari hadits Sa’d bin Abu Waqqas, dan riwayat inilah yang paling kuat. Namun, sasarannya mencakupi setiap keadaan yang sama. Jadi, al-Qur’an mengutamakan pertalian dan hubungan, sebagaimana ia mengutamkan pelbagai kewajipan dan taklif. Pertalian di jalan Allah adalah pertalian yang pertama, dan taklif berkaitan dengan hak Allah menjadi kewajipan yang pertama. Al-Qur’an al-Karim menetapkan kaedah ini dan menegaskannya di setiap kesempatan dan di dalam pelbagai gambaran agar ia tertanam dalam sanubari seorang mukmin secara jelas, tegas, tidak ada keraguan dan kesamaran di dalamnya.

Setelah penjelasan yang panjang dalam konteks nasihat Luqman kepada anaknya, maka dilanjutkan dengan perenggan kedua tentang nasihat, untuk menetapkan perkara akhirat beserta hisab yang detik dan balasan yang adil di dalamnya. Tetapi, hakikat ini tidak dipaparkan secara abstrak, melainkan di paparkan di dalam ruang kauni yang luas, dan dalam gambaran yang berkesan dan menggetarkan emosi saat ia merasakan pengetahuan Allah yang komprehensif, besar, cermat, dan halus.

“(Luqman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”(16)

Tidak ada satu ungkapan pun yang boleh menjangkau ketelitian dan komprehensifnya pengetahuan Allah, kekuasaan Allah Subhanahu Wataala, serta telitinya hisab dan keadilan kriteria seperti yang dijangkau oleh ungkapan yang disebutkan ini. Ini adalah kelebihan metod al-Qur’an yang mu’jiz, indah penuturannya, dan dalam iramanya. Satu biji sawi, kecil, hanya diabaikan, tidak memiliki berat dan nilai. “Dan berada dalam batu..” Terselit, terkurung di dalamnya, tidak terlihat, dan tidak mampu dicapai. “Atau di langit..” Di dalam entiti yang besar dan terang, dimana bintang yang sangat besar dilihat seperti titik yang melayang-layang atau seperti atom yang terbang tanpa arah. “Atau di bumi..” Ia hilang di tanah dan debunya, tidak dapat dikesan. “Nescaya Allah akan mendatangkannya..” Pengetahuan Allah menjangkau biji sawi itu, dan kekuasaan-Nya tidak meluputkannya. “Sesungguhnya Allah Maha Lemah-lembut lagi Maha Mengetahui..” Ini adalah ulasan yang sesuai dengan pemandangan yang tersembunyi dan halus.

Imaginasi sentiasa menelusuri biji sawi itu di tempatnya di dalam alam yang luas, serta merenungkan pengetahuan Allah yang menjangkaunya, sehingga hati menjadi khusyuk dan kembali kepada Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib yang tersembunyi. Di sebalik itu, hakikat yang hendak ditetapkan al-Qur’an itu mengakar dalam hati, dengan cara yang menakjubkan ini.

Diterjemah oleh: Mohd Syahidan bin Kamarudin
Sumber: http://www.eramuslim.com

    Print       Email

Leave a Reply

You might also like...

ibubapa

Apakah cukup wahai Ibu Bapa?

Read More →